Tidak Ada Lagi Hambatan Akses Finansial: Fintech Dapat Menolong Anda

July 17, 2017

 

Akses masyarakat pada keuangan, terutama layanan perbankan di Indonesia sudah lama menjadi isu penting yang menjadi perhatian para pemangku kepentingan. Menurut survei Bank Dunia, yang dilansir Bisnis Indonesia pada Mei 2017, baru 37% penduduk dewasa Indonesia memiliki rekening bank. Sementara sebesar 27% penduduk dewasa Indonesia memiliki simpanan formal dan 13% memiliki pinjaman formal.

 

Artinya, sebanyak 63% warga Indonesia belum dapat menikmati fasilitas keuangan, termasuk perbankan. Melalui Strategi Nasional Keuangan lnklusif (SNKI), pemerintah pun menargetkan peningkatan rasio masyarakat pengakses layanan bank menjadi 79% pada 2019.

 

Berdasarkan hasil survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terbaru tahun 2016 yang dirilis awal tahun 2017, indeks literasi keuangan Indonesia baru sebesar 29,66%. Masih jauh di bawah indeks literasi keuangan negeri jiran Malaysia yang mencapai 65% apalagi Singapura yang telah mencapai indeks 98%.

 

Indeks literasi keuangan sendiri merupakan indeks yang mengukur tingkat pemahaman dan keyakinan masyarakat terhadap keuangan. Mulai dari memanfaatkan produk keuangan dan pemahaman atas risiko serta manfaat produk keuangan. Indeks itu diperoleh melalui survei yang digelar OJK pada 9.680 responden di 34 provinsi yang tersebar di 64 kota/kabupaten di Indonesia dengan mempertimbangkan gender, strata wilayah, umur, pengeluaran, pekerjaan, dan tingkat pendidikan.

 

Gurita jaringan bank di Indonesia juga masih terbatas di kota-kota besar. Tercatat, penetrasi kantor bank di Indonesia baru ada satu kantor bank dibanding 100.000 jumlah penduduk. Angka tersebut hanya seperenam bila dibandingkan dengan Eropa. Bahkan bila dibandingkan dengan negeri Jiran Malaysia, penetrasi bank di Indonesia juga masih kalah. Rasio kantor bank di Malaysia sudah mencapai 10,7 bank dibanding 100.000 jumlah penduduk, mengutip Statista.com.

 

Kehadiran fisik perbankan yang masih relatif rendah ini pada akhirnya memengaruhi pula tingkat akses masyarakat terhadap beragam jenis layanan perbankan, termasuk layanan pinjaman.

 

 

Ketatnya perbankan dalam menyeleksi peminjam, ditambah tingkat kemelekan finansial (financial literacy) masyarakat Indonesia yang masih rendah, menjadikan layanan pinjaman yang ditawarkan oleh perbankan di Indonesia belum sepenuhnya mampu dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.


Alhasil, banyak kalangan masyarakat yang membutuhkan pinjaman modal ataupun pinjaman untuk kebutuhan pribadi akhirnya terjerat tawaran para lintah darat alias rentenir. Para rentenir ini menawarkan pinjaman dengan bunga mencekik dan tanpa skema pinjaman yang jelas.

 

Mungkin Anda sudah mengetahui akan banyaknya kasus utang piutang akibat ulah rentenir di pedesaan. Penentuan bunga pinjaman oleh rentenir bisa sangat semena-mena di mana bunga bahkan dihitung dalam hitungan hari atau bahkan hitungan jam saja.

 

Misalnya, pagi hari dana pinjaman diberikan Rp 1 juta dengan bunga 5% per 12 jam. Sehingga, si peminjam harus bisa mengembalikan pinjaman itu maksimal 12 jam kemudian senilai Rp 1,05 juta.

 

Hitungan seperti itu berarti setara dengan pembayaran bunga Rp 50.000 per hari. Sehingga, pinjaman yang semula cuma Rp 1 juta, akhirnya membengkak menjadi Rp 18,25 juta, bila utang baru dibayarkan setahun kemudian.

 

Kasus seperti ini banyak terjadi, terutama di pelosok desa, di mana kebanyakan masyarakat kesulitan mengakses sumber pinjaman yang lebih "manusiawi" dan masuk akal hitungan bunganya.

 

Syukurlah, situasi kurang ideal ini perlahan tapi pasti menemukan solusi. Ada banyak jalan keluar strategis yang bermunculan. Misalnya, program Laku Pandai yang digagas oleh Otoritas Jasa Keuangan. Ini adalah sebuah program penyediaan layanan bank atau keuangan lain melalui kerja sama dengan agen bank didukung pemakaian teknologi informasi. Juga, yang paling menarik perhatian adalah kehadiran fintech.

 

TAWARAN SOLUSI DARI FINTECH

Kehadiran layanan teknologi finansial alias financial technology (fintech) di tengah masyarakat kita beberapa waktu belakangan ini semakin menarik perhatian. Apakah fintech itu? Mengutip Bank Indonesia, fintech merupakan perpaduan antara teknologi dengan fitur keuangan yang mengubah model bisnis dan memangkas segala hambatan dalam akses (barrier to entry).

 

Secara mudah, kehadiran fintech dengan produk keuangan yang lebih sederhana dan pemanfaatan teknologi dalam operasional layanan, dapat menjadi solusi terbaik hambatan akses finansial di Indonesia.

 

Sebagai perbandingan, untuk menyalurkan sebuah pinjaman, sebuah bank menempuh berbagai tahapan proses yang cukup panjang dan kesemuanya membutuhkan biaya tidak kecil. Mulai dari menyeleksi profil calon peminjam, apakah proses seleksi dokumen identitas, pengecekan agunan, dan lain sebagainya, hingga mengirimkan orang untuk mengingatkan si peminjam akan tagihan mereka.

 

Pada fintech, proses-proses yang ditempuh oleh bank dalam menentukan calon peminjam yang dianggap layak, kesemuanya bisa dijalankan dengan lebih murah, cepat dan mudah dengan bantuan teknologi. Sebagai contoh, kehadiran ponsel pintar yang telah dilengkapi dengan kamera dan akses internet calon peminjam yang bisa menjadi sumber data berguna.

 

Dengan kamera ponsel, calon peminjam bisa memanfaatkannya untuk mengambil gambar diri (selfie) untuk kelengkapan verifikasi identitas, nomor ponsel juga bisa menjadi salah satu sumber informasi untuk memverifikasi identitas peminjam sebenarnya.

 

Melalui proses lebih efektif didukung pemanfaatan teknologi, pinjaman yang dikucurkan juga bisa lebih murah. Dan yang terpenting, pinjaman bisa diakses oleh siapa saja yang dinilai layak walau mungkin selama ini belum pernah tersentuh oleh layanan perbankan.

 

Kehadiran fintech yang menonjolkan kemudahan dan efektivitas proses pengucuran pinjaman pada akhirnya juga menjadi solusi penting terhadap permasalahan yang timbul akibat keberadaan rentenir di tengah masyarakat. Tawaran pinjaman dana oleh fintech jauh lebih transparan skema bunganya terlebih dengan pemanfaatan teknologi yang memudahkan aksesibilitas pinjaman maupun proses pembayaran pinjaman kelak.

 

 

NILAI LEBIH FINTECH

Fintech bisa menyentuh kalangan masyarakat yang selama ini boleh jadi belum terjamah layanan bank, termasuk dalam hal akses pinjaman modal. Terlebih dengan booming e-commerce di Indonesia yang melahirkan banyak pemain usaha baru kelas rumahan sampai kelas kakap.

 

Mengutip Statista.com, nilai transaksi online di Indonesia pada tahun 2016 mencapai US$ 14,8 miliar. Angka itu diprediksi bakal meningkat menjadi US$ 130 miliar pada tahun 2020, merujuk pada target pemerintah RI dalam E-Commerce Roadmap.

 

Di sisi lain, menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) seperti dikutip oleh Tabloid KONTAN, April 2017, masih ada kurang lebih 49 juta pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang sejauh ini tidak bankable. Sementara nilai gap kebutuhan kredit atau pinjaman kelompok ini mencapai kurang lebih Rp 988 triliun. Kelompok ini tentu saja sangat membutuhkan akses pinjaman modal yang mudah akan tetapi juga ekonomis.

 

Di sinilah, kehadiran fintech dengan tawaran kemudahan akses pinjaman pada seluruh lapisan masyarakat menjadi sangat strategis. Di Indonesia, salah satu pemain fintech yang menawarkan solusi kemudahan pinjaman modal adalah Awan Tunai, yang hadir dengan dua tawaran layanan finansial.

 

PERTAMA, layanan kemitraan. Awan Tunai menawarkan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang ingin melengkapi tunjangan atau benefit bagi para karyawannya berupa pinjaman lunak alias softloan. Misalnya saja kerja sama kemitraan pembiayaan karyawan dengan Blue Bird, berupa fasilitas cicilan smartphone bagi para driver. Keberadaan ponsel pintar ini dianggap krusial karena bisa membantu driver meningkatkan penghasilan melalui aplikasi transportasi online, seperti Go-Car ataupun menerima orderan online via aplikasi Blue Bird. Dengan demikian, produktivitas karyawan dapat meningkat dan pada akhirnya, performa perusahaan juga meningkat.


KEDUA, layanan pinjaman. Bila membutuhkan pinjaman modal untuk kebutuhan bisnis atau modal usaha, Anda bisa mengajukannya di Awan Tunai. Pinjaman yang disediakan oleh Awan Tunai sifatnya adalah pinjaman produktif seperti pinjaman modal usaha kecil, seperti untuk membuka warung kelontong atau pinjaman pembelian ponsel pintar untuk modal berjualan online.

Anda cukup mengajukan pengajuan online, menyertakan kartu identitas (KTP) dan melengkapi aplikasi dengan foto diri. Dalam waktu dekat, Awan Tunai akan melengkapi layanan ini dengan kehadiran aplikasi pinjaman di smartphone.


Nah, dengan tawaran akses finansial lebih mudah dan murah dari fintech seperti Awan Tunai, apa lagi yang Anda tunggu? Pelajari lebih jauh dan jangan ragu memanfaatkan kemudahan yang ditawarkan oleh Awan Tunai.

 

 

Please reload

Recent Posts

Please reload

Archive

Please reload

Tags

Please reload